Ola.

(Okelah, kali ini terserah kalau kalian mau bilang aku cengeng. Aku sudah bosan menulis kata kata dimana sebenarnya aku ini nggak cengeng, cuma perasa.)

Aku mau cerita… Aku kaget, saat salah satu temanku, Nurfa, memiliki tulisan “let’s start a new begining” di kamarnya. Di sebuah schedule board. Di tanggal satu.
Aku kaget bercampur senang mengetahui dia akhirnya mendapatkan kembali apa yang diinginkannya selama ini.

dia mendapatkan lagi Tanggal satu-nya. Semacam ‘thirteen’ jika untukku.

Tapi tanpa sadar… aku juga meneteskan air mata. Aku tak tahu kenapa di saat aku mengucapkan kata “selamat” padanya, air mataku menetes tanpa komando. Aku tak mengerti.

Setelah berselang, setelah yang lain bertanya “yaampun tal kenapa kok nangis??” Dengan nada heran. Aku pun ikut heran dan berhenti menangis.

Aku tak dapat menyimpulkan apapun.

Hari ini lagi.

Aku sedang netral. Habis makan coklat yang selalu membuatku senang.
aku buka Path, salah satu media sosial yang akhir akhir ini sering ku gunakan, lalu aku melihat sebuah post yang tak asing pengirimnya

Adhit. Akhirnya dia kembali lagi bersama dengan seseorang yang dicintainya.

Aku buru buru mengetik kata “aaah seneng banget liatnya yang di path” melalui sebuah chat personal.

Sekali lagi, dengan perasaan yang sangat senang saat mengetahui temanku mendapatkan kebahagiaan… aku menangis tanpa awalan. Hanya menangis.

akhirnya setelah dua kali aku pun sadar:

aku benar benar sedih.

Aku selalu menganggap aku mampu berbohong atas segala keadaan. Tapi ternyata tidak kepada hatiku sendiri.

Semua kilasan dan kelebat memori selalu menyeruak secara tiba – tiba. Selalu mengusik apa yang aku anggap aku dapat tampik.

Tuhan, kenapa aku harus menjadi siapapun kecuali diriku?

Kenapa aku harus berbohong dan memberikan ekspresi yang menunjukkan ketertarikan dan ceria saat sebenarnya aku sedih dengan segala cerita yang ia ceritakan ke hadapanku?

Kenapa aku harus sedih sembari mendukungnya saat ia menyatakan betapa ia menyukai perempuan baik itu?

Kenapa.

Kenapa aku begitu khilafnya menjebak diriku sendiri?

Kenapa Tuhan? Kenapa kau biarkan aku membuat hari itu menjadi sepanjang ini?

Ampuni aku. Aku sudah cukup sedih. Jangan ditambah lagi, ya, Tuhan.

image

Ramadhan hari ke-4.

xx, tasabella.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s